Feeds:
Posts
Comments

INDONESIA Ver.

ENGLISH Ver.

.

.

.

.

Download LINK :
indo ver :

http://www.ziddu.com/download/10288534/Movie.wmv.html

http://www.ziddu.com/download/10273551/EKMAN.flv.html
http://rapidshare.com/files/398554618/EKMAN.flv.html (10x / 60days from 13/06/10)
http://www.4shared.com/video/U4CJiZST/EKMAN.html

english ver:

http://rapidshare.com/files/398929140/Movie_0001.wmv.html

.

.

.

IbnuFaizal.YogiPrayoga.ArchieFajarnuarsyah.

FannyKristiadhi.DwiAjengPramesti.

ILMUKELAUTANUNPAD2007

Teripang

Teripang adalah binatang laut berkulit duri (berbulu-bulu hitam) sebesar mentimun muda. Sebelum diperdagangkan komoditi yang sering juga disebut dengan sea cucumber (ketimun laut) dikeringkan terlebih dahulu. Hewan ini hidup sampai pada kedalaman lebih dari 30 meter. Di pasar lokal, harga teripang Rp 30.000 – Rp 150.000 per kg. Karena harganya yang amat menggiurkan itu, banyak pihak yang mencoba mencari teripang dimana pun berada. Perburuan teripang oleh nelayan Madura dan Bugis bahkan sampai kawasan terumbu Ashmore di perairan utara Australia.
Pra budidaya…

1. Pemilihan Lokasi Budidaya

Lokasi

Pemilihan lokasi merupakan langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan budi daya. Selain itu, beberapa pertimbangan bioekologi, sosial ekonomi, dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku juga harus dipenuhi agar kemungkinan timbulnya beberapa hambatan/masalah di kemudian hari bisa diantisipasi sedini mungkin.
Pada umumnya budi daya teripang dilakukan di perairan pantai pada kawasan pasang surut. Ini disebabkan karena potensi lahan pantai masih cukup luas. Namun demikian, teripang mempunyai kemungkinan pula untuk dibudidayakan di kolam air laut (tambak) dengan syarat tertentu.

Secara umum, perairan pantai yang memiliki benih teripang alami cocok untuk tempat budi daya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan suatu lokasi yang tidak memiliki benih alami juga cocok untuk tempat budi daya.

Jenis teripang yang sudah dan banyak dibudidayakan di negara kita ialah teripang putih (Holothuria scabra). Hal ini dikarenakan harga teripang ini mahal, pertumbuhannya cepat, lebih toleran terhadap perubahan lingkungan, dan dapat dibudidayakan dengan padat penebaran tinggi. Oleh karena itu, pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan lokasi ini diutamakan untuk jenis teripang putih walaupun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan pada jenis-jenis teripang lain. Hal ini mengingat setiap jenis teripang mempunyai sifat biologi spesifik yang berbeda, tetapi secara umum habitatnya relatif sama.
Pertimbangan dalam pemilihan lokasi tersebut adalah sebagai berikut :

a. Keterlindugan

Lokasi budi daya harus terlindung dari pengaruh ams, gelombang, maupun angin yang besar. Arus, gelombang, atau angin yang besar akan memsak sarana budi daya serta menyulitkan dalam pengelolaan budi daya. Lokasi yang terlindung dari pengaruh seperti ini biasa diketemukan di perairan teluk, laguna, atau perairan terbuka yang terlindung oleh gugusan pulau atau karang penghalang.

b. Kondisi dasar perairan

Dasar perairan hendaknya berpasir atau pasir berlumpur bercampur dengan pecahan-pecahan karang dan banyak terdapat tanaman air semacam rumpt laut (sea weed) dan alang-alang laut (sea gress)

c. Salinitas air laut

Dengan kemampuan yang terbatas dalam pengaturan osmotik, maka teripang tidak dapat bertahan hidup terhadap perubahan salinitas yang terjadi secara drastis. Salinitas optimum adalah 30-33 ppt.

d. Kedalaman air

Secara alami teripang hidup pada kedalaman perairan yang berbeda-beda menurut besarnya. Teripang muda tersebar didaerah pasang surut, setelah ukurannya bertambah besar maka berpindah ke dasar perairan yang lebih dalam. Lokasi yang cocok untuk budidaya teripang sebaiknya pada kisaran kedalaman air antara 0,5-1,5 m pada air surut terendah.

e. Ketersediaan benih

Lokasi pengembangan budidaya teripang sebaiknya tidak jauh dari tempat pengumpulan benih secara alamiah. Terdapat benih alamiah pada periaran tersebut adalah suatu indikator yang baik untuk lokasi budidaya teripang.

f. Kondisi Lingkungan

Kondisi perairan sebaiknya harus memenuhi standar kualitas air laut yang baik bagi kehidupan ( laju pertumbuhan dan sintasan). Teripang yang dibudidayakan, seperti : suhu air 20-250 C, pH air 6,5-8,5 , kadar oksigen terlarut 4-8 ppm, dan kecerahan 0,5-1,5 cm (cahaya matahari sampai kedasar), serta lokasi budidaya harus bebas dari pencemaran seperti limbah organik, logam berat, minyak dan bahan-bahan beracun lainnya.

g. Perairan Jernih.

Perairan harus jemih, bebas pencemaran dengan nilai kecerahan 50 – 150 cm yang diukur dengan piring seicchi.

h. Kemudahan

Lokasi budi daya harus mudah dijangkau. Selain itu, sarana produksi harus mudah diperoleh dan pemasaran harus dapat dilakukan dengan mudah di tempat itu. Pertimbangan lainnya, lokasi budi daya sebaiknya bukan merupakan. pusat kegiatan nelayan, bukan daerah penangkapan ikan, bukan wilayah pelayaran, dan bukan daerah pariwisata sehingga benturan kepentingan dapat dihindarkan.

2. Perizinan Budidaya

Perizian

Dalam mendirikan tempat budidaya tidak bisa sembarangan mendirikan. Perlu ada perizinan kepada pemerintah daerah setempat yaitu pemda Kepulauan Karimun Jawa untuk mendirikan tempat budidaya. Dasar hukum dalam pendirian lokasi budidaya adalah Keputusan Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial, Nomor 70/PS.5/KPTS/IX/2008 tanggal 26 September 2008 tentang penetapan kelompok usaha bersama di provionsi kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan/desa penerima program pemberdayaan fakir miskin melalui mekanisme bantuan langsung pemberdayaan sosial (BLPS).

3. Pemilihan Benih

bibit

Setelah izin pendirian lokasi budidaya telah didapatkan oleh pemerintah daerah Kepulauan Karimun Jawa, maka langkah selanjutnya sebelum melakukan kegiatan budidaya adalah pemilihan benih unggul yang akan dijadikan induk dan akan dibesarkan. Adapun untuk memilih benih unggul teripang dapat dilihat dari berbagai aspek, antara lain :

a. Tubuh tidak cacat.

b. Ukuran besar dengan berat 400 gr dan panjang tubuh minimal 20 cm.

c. Berkulit tebal.

Umumnya berat tubuh teripang berpengaruh langsung atau berkolerasi terhadap berat gonad dan indeks kematangan gonad serta fekunditas. Pengangkutan induk dari tempat pengumpulan dapat dilakukan dengan wadah, seperti ember plastik yang berisi air laut atau langsung ditempatkan pada palka perahu. Untuk pengumpulan/pengankutan calon induk pada siang hari sebaliknya wadah penampungan atau palka ditutup teripang atau ilalang laut untuk menghindarkan calon induk dari sinar matahari secara langsung. Pengangkutan induk dari tempat pengumpulan dapat dilakukan dengan wadah, seperti ember plastik yang berisi air laut atau langsung ditempatkan pada palka perahu.
Budidaya Teripang

Metode yang digunakan untuk membudidayakan teripang (ketimun laut) yaitu dengan menggunakan metode penculture. Metode penculture adalah suatu usaha memelihara jenis hewan laut yang bersifat melata dengan cara memagari suatu areal perairan pantai seluas kemampuan atau seluas yang diinginkan sehingga seolah-olah terisolasi dari wilayah pantai lainnya.

Bahan yang digunakan ialah jaring (super-net) dengan mata jaring sebesar 0,5 – 1 inci atau dapat juga dengan bahan bambu (kisi-kisi). Dengan metode ini maka lokasi/areal yang dipagari tersebut akan terhindar dari hewan-hewan pemangsa (predator) dan sebaliknya hewan laut yang dipelihara tidak dapat keluar dari areal yang telah dipagari tersebut.

Pemasangan pagar untuk memelihara teripang, baik pagar bambu (kisi-kisi) ataupun jaring super net cukup setinggi 50 cm sampai 100 cm dari dasar perairan. Luas lokasi yang ideal penculture ini antara 500 – 1.000 m2.

a. Sumber benih teripang
Benih teripang dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu :

* melakukan pemungutan dari alam dan
* dengan memelihara induk-induk teripang pada petak-petak di dalam area penculture.

Teripang yang dijadikan induk ialah yang sudah dewasa atau diperkirakan sudah dapat melakukan reproduksi dengan ukuran berkisar antara 20 – 25 cm. Sedangkan benih teripang alam yang baik untuk dibudidayakan dengan metoda penculture adalah yang memiliki berat antara 30 sampai 50 gram per ekor atau kira-kira memiliki panjang badan 5 cm sampai 7 cm. Pada ukuran tersebut benih teripang diperkirakan sudah lebih tahan melakukan adaptasi terhadap lingkungan yang baru.

b. Pengangkutan benih/induk
Di dalam hal budidaya teripang cara pengangkutan benih/ induk merupakan hal yang penting. Lebih-lebih apabila sumber benih/induk teripang yang akan dibudidayakan letaknya relatif jauh, sehingga diperlukan teknik yang baik didalam pengangkutan teripang tersebut agar tetap hidup sampai di lokasi budidaya. Metode pengangkutan teripang agar dapat memberikan tingkat kehidupan yang tinggi adalah sebagai berikut:

* Teripang dimasukan pada kantong plastik ukuran 2 liter dengan media air dan pasir. Sebelumnya kantong plastik digelembungkan untuk melihat kantong tersebut bocor atau tidak.
* Kepadatan untuk masing-masing jenis adalah : untuk teripang putih dan teripang grido dengan berat antara 100-200 g adalah 3 ekor untuk setiap kantong, sedangkan untuk teripang jenis olok-olok 4 ekor untuk setiap kantong plastik.

c. Makanan Teripang
Faktor makanan dalam pemeliharaan (budidaya teripang tidak menjadi masalah sebagaimana halnya hewan-hewan laut lainnya. Teripang dapat memperoleh makanannya dari alam, berupaplankton dan sisa-sisaendapan karang yang beracadi dasar laut. Namun demikian untuk lebih mempercepat pertumbuhan teripang dapat diberikan makanan tambahan berupa campuran dedak dan pupuk kandang (kotoran ayam).

Cara pemberian makanan tambahan tersebut adalah sebagai berikut :

* Dedak halus dan kotoran ayam dicampur rata
* Campuran dimasukkan kedalam kantong plastik
* Kemudian direndam deism air laut sampai campuran menjadi lengket, lalu dibentuk menjadi gumpalan.
* Gumpalan tersebut kemudian disebar merata kedalam kurungan.

Cara lain agar pupuk tidak hanyut dapat dilakukan sebagai berikut:

*
Pupuk dimasukkan ke dalam karung plastik dan ditenggelamkan ditempat pemeliharaan.
*
Setelah kira-kira 10 hari akan muncul micro organisms sebagai makanan teripang.

Pemberian makanan tambahan sebaiknya dilakukan pada sore hari.. Hal ini disesuaikan dengan sifat hidup atau kebiasaan hidup dari teripang. Pada waktu siang hari teripang tidak begitu aktif bila dibandingkan dengan pada malam hari, karena pada waktu siang hari ia akan membenamkan dirinya dibawah dasar pasir/karang pasir untuk beristirahat dan untuk menghindari/melindungi dirinya dari pemangsa/predator, sedangkan pada waktu malam hari ia akan lebih aktif mencari makanan, baik berupa plankton maupun sisa-sisa endapan karang yang berada didasar perairan tempat hidupnya.

d. Padat penebaran
Teripang dapat hidup bergerombol dilempat yang terbatas. Oleh karena itu dalam usaha budidayanya dapat diperlakukan dengan padat penebaran yang tinggi. Untuk ukuran benih teripang sebesar 20 – 30 gram per ekor, padat penebaran berkisar antara 15 – 20 ekor per meter persegi, sedangkan untuk benih teripang sebesar 40 – 50 gram per ekor, padat penebarannya berkisar antara 10 – 15 ekor per meter persegi.

Waktu yang tepat untuk memulai usaha budidaya teripang disuatu lokasi tertentu ialah 2-3 bulan setelah waktu pemijahan teripang di alam (apabila menggunakan benih dari alam). Benih alam yang berumur 2 sampai 3 bulan diperkirakan sudah mencapai berat 20 – 50 gram per ekor.

Pasca Budidaya

Teripang

Pemungutan hasil atau panen dapat dilakukan setelah teripang mencapai ukuran pasar (marketing size), yaitu berkisar antara 4-6 ekor/kg (berat basah). Untuk mendapatkan ukuran ini biasanya teripang dipelihara selama 6-7 bulan dengan sintasan yang dicapai kurang lebih 80% dari total penebaran awal. Panen dilakukan pada pagi hari sewaktu air sedang surut dan sebelum teripang membenamkan diri. Panen dapat dilakukan secara:

1. Panen selektif ialah dengan memilih teripang yang telah mencapai ukuran pasar degan berat rata-rata sekitar 200 g/ekor.

2. Panen total ialah dengan memungut semua teripang dari areal budidaya, kemudian diseleksi menurut ukuran.

Sebelum dipasarkan, teripang terlebih dahulu diproses agar diperoleh kualitas produk yang memenuhi standar pasar. Beberapa tahapan yang dilakukan dalam pengolhan teripang hingga siap untuk dipasarkan adalah sebagai berikut:

1. Teripang hasil panen dicuci terlebih dahulu dengan air bersih, kemudian direndam dengan air campuran daun pepaya selama kurang lebih 15 menit. Rendaman ini dimaksudkan untuk me;arutkan zat kapur pada bagian kulit luar teripang.

2. Teripang yang sudah di rendam dengan air campuran daun pepaya dibersihkan dengan cara mengelupas kulit bagian luarnya (zat kapur).

3. Selanjutnya teripang direbus sampai mendidih selama 1 jam, lalu didinginkan sambil ditiriskan airnya.

4. Setelah dingin, teripang dibelah pada bagian abdomennya untuk mengeluarkan isi perutnya. Pada saat pembedahan diusahakan agar tidak banyak melukai otot-oto bagian tubuh teripang.

5. Setelah isi perut dikeluarkan, maka teripang siap untuk dipanggang dengan cara pengasapan hingga kering.

6. Lama pengasapn berkisar antara 3-5 jam, setelah itu teripang diikat kembali agar bekas pembedahan pada bagian abdomen tertutup kembali.

7. Teripang yang sudah diikat siap untuk dipacking dan proses pengemasannya perlu diperhatikan beberapa hal seperti bahan pengukus harus bersih, kering dan tidak mudah sobek.

Love Seacucumber

Fish Finder

Fish  Finder is A type of radar integrated into the navigation system of the boat

Fish Finder

A fishfinder is a type of fathometer, both being specialized types of echo sounding systems, a type of Active SONAR. (‘Sounding’ is the measurement of water depth, a historical nautical term of very long usage.) The fishfinder uses active sonar to detect fish and ‘the bottom’ and displays them on a graphical display device, generally a

LCD or CRT screen. In contrast, the modern fathometer (from fathom plus meter, as in ‘to measure’) is designed specifically to show depth, so may use only a digital display (useless for fish finding) instead of a grap

hical display, and frequently will have some means of making a permanent recording of soundings (which are merely shown and subsequently ele

ctronically discarded in common sporting fishfinder technology) and are always principally instruments of navigation and safety. The distinction is in their main purpose and hence in the features given the system. Both work the same way, and use similar frequencies, and, display type permitting, both can show fish and the bottom. Thus today, both have merged, especially with the advent of computer interfaced multipurpose fishfinders combining GPS technology, digital chart-plotting, perhaps radar and electronic compass displays in the same affordable sporting unit.

Eventually, CRTs were married with a fathometer for commercial fishing and the fishfinder was born. With the advent of large LCD arrays, the high power requirements of a CRT gave way to the LCD in the early 1990s and fishfinding fathometers reached the sporting markets at prices nearly anyone of modest means could afford. Today, sporting fishfinders lack only the permanent record of the big ship navigational fathometer, and that is available in high end units that can use the ubiquitous computer to store that record as well.

OPERATING THEORY

In a generalized sense, an electrical impulse from a transmitter is converted into a sound wave by the transducer, called a hydrophone, and sent into the water. When the wave strikes something such as a fish, it is reflected back and displays size, composition, and shape of the object. The exact extent of what can be discerned depends on the frequency and power of the pulse transmitted. The signal is quickly amplified and sent to the display. Knowing that the speed of the wave in the water is 4921 ft/s (1500 m/s) in seawater, 4800 ft/s (1463 m/s) in freshwater (typical values used by commercial fish finders), the distance to the object that reflected the wave can be determined. The process can be repeated up to 40 times per second and eventually results in the bottom of the ocean being displayed versus time (the fathometer function that eventually spawned the sporting use of fishfinding.) Note: This discussion of the propagation of sound in water is simplified, speed of sound in water depends on the temperature, salinity and ambient pressure (depth). This follows approximately this formula (del Grosso, 1974):
c = 1448.6 + 4.618T − 0.0523T2 + 1.25 * (S − 35) + 0.017D
where
c = sound speed (m/s)
T = temperature (degrees Celsius)
S = salinity (pro mille)
D = depth TS = TeamSamick This will give variations in speed through the water column

TRANSDUCERS & SENSORS FOR FISH FINDERS

We offer an extremely wide range of matched, high performance, high speed transducers for various depth sounders. There are transducers for virtually every type and size of boat — sail boats, large power boats, trailerables and more. There are also separate sensors you can install that will read your boat speed and the surface water temperature. Fact is, our selection of transducers is so broad that it is impractical to list them all here.
For a complete run-down, you should see your boat dealer. He can recommend the best type of transducer for your boat; he’ll make sure it matches your sounder; and he can help you install both your transducer and your sounder. For do-it-yourselfers, installation instructions are available for all transducers. To help make your transducer selection easier, we have provided a general guide to the basic types of transducers along with a brief description of where and how to install each.

Transom Mount Transducers

Transom Mount Transducers

As the name indicates, this style of transducer mounts on the transom. The best mounting location is at the bottom of the transom with the face (bottom) of the transducer on a nearly horizontal plane, as shown in these two diagrams. Installation is best accomplished while the boat is out of the water.

The objective in mounting this style of transducer is to keep the face of the transducer in the water — whether the boat is at rest or underway — while minimizing the amount of transducer protruding below the bottom of the boat — as illustrated here.

mounting

It is important to minimize the turbulence and aeration around the transducer. Consequently, you should avoid locating the transducer along strakes, behind thru-hull fittings or other hull irregularities that may disturb the water flowing across the transducer face.
Transom mount transducers are often used on trailerable boats, as the location does not usually interfere with the trailer bunks, rollers, struts and other objects on a boat trailer. This style of transducer is also used on boats that cannot easily accommodate a thru-hull fitting on the bottom of the boat.

Thru-Hull Transducers

Thru-Hull Transducers

When properly installed, this type of transducer offers better performance and fish detection than any other style. As the name implies, it does require drilling or cutting a hole in bottom of your boat. For this reason, installation should be undertaken while the boat is in dry dock.
The location of the transducer depends on the type of hull, as shown in these diagrams for displacement and planing power boats as well as fin keel and full keel sail boats.

When mounting on a deadrise angle — such as shown on a full-keel sailboat — a special “fairing block” is required, so that the face of the transducer lays on a horizontal plane.

Position on Boat

As with any other transducers, thru-hull types should be mounted where they will be continuously immersed in undisturbed water. Objects than can disturb the water flow around a thru-hull transducer include strakes, fittings, keels and propeller wash.
To eliminate potential leaks, it’s essential to apply a liberal amount of a quality bedding compound — one that can stand up to continuous immersion — around the transducer’s stem and fittings on both the inside and outside.



“Shoot Thru” Transducers

"Shoot Thru" Transducers

This type of transducer fastens inside the boat hull, transmitting and receiving signals through the hull material, as shown in this illustration. This works only through fiberglass and is how “shoot thru” or “in-hole” transducers get their name. This style does not require cutting a hole in the bottom of the boat. As with other transducers, location is critical to performance. Typically, a flat section in the aft bilge area is the best spot, although you may need to experiment to find the best location. The latest in hull transducers, the P-79® allows you to compensate for the boats dead-rise angle.

Not all boats are well suited to shoot-thru style transducers. On smaller boats, for example, there is often a layer of foam flotation material between the deck and the hull. Shooting through the foam seriously hampers performance. In such cases, another type of transducer — such as a transom-mount — is more practical.

There are a number of methods for securing a shoot-thru style transducer. Some can be bolted on. Some are designed to be fiberglassed or epoxied into place. Still others require a special interior enclosure that completely encapsulates the transducer in fluid such as castor oil.
Your dealer can help you decide on the installation method that best suits your needs.



Speed & Temperature Sensors

Speed & Temperature Sensors

All echo sounders will display boat speed and surface water temperature, when connected with the proper sensors. In fact, some transducers — ones known as “multi-sensors” — have built-in speed and temperature sensors.
Most transducers, however, handle only echo sounding/fish-finding. To read boat speed and water temperature, a separate sensor is required. These sensors come in two styles: transom mount and thru-hull (shown here).

Like transom mount transducers, transom mount speed/temperature sensors mount at the bottom of the transom. They should be mounted just low enough to allow water flowing off the bottom of the boat to turn a speed-sensing paddle wheel.

As with thru-hull transducers, thru-hull speed/temperature sensors require cutting a hole in the bottom of the boat, as shown. These sensors do not need to be mounted on a horizontal plane. They can be installed on a deadrise angle without a fairing block.

UNDERSTANDING YOUR COLOR FISH FINDER SCREEN


TYPICAL SINGLE-FREQUENCY/A-SCOPE SPLIT SCREEN PRESENTATION

Single-Frequency Picture

TYPICAL SINGLE-FREQUENCY/A

Showing area your boat has just passed over, including:

A Surface clutter, created by turbulence around transducer.

B Individual fish.

C School of fish hovering above the reef.

D Reef area, showing rocks above and harder bottom below.

E Digital readout of depth, water temp and boat speed.

F Speed of picture advance (also called “scrolling” rate).

G Sounder depth scale.

H A-Scope Picture, showing immediate, real-time returns of echoes including:

I School of fish below the boat, just above the bottom.

J Softer bottom below boat.

TYPICAL DUAL-FREQUENCY HIGH/LOW SPLIT SCREEN PRESENTATION

TYPICAL DUAL-FREQUENCY

_

Low-Frequency Picture

Showing area your boat has just passed over, including:

A Surface clutter, created by turbulence around transducer.

B Individual fish.

C Schools of fish hovering above the bottom.

D Digital readout of depth below boat, water temp and boat speed.

High-Frequency Picture

Showing area your boat has just passed over, including:

E Speed of picture advance (also called “scrolling rate”).

F Surface clutter, created by turbulence around transducer.

G Individual fish.

H Schools of fish hovering above the bottom.

I Sounder depth scale.

A fishfinder is a type of fathometer, both being specialized types of echo sounding systems, a type of Active SONAR. (‘Sounding’ is the measurement of water depth, a historical nautical term of very long usage.) The fishfinder uses active sonar to detect fish and ‘the bottom’ and displays them on a graphical display device, generally a LCD or CRT screen. In contrast, the modern fathometer (from fathom plus meter, as in ‘to measure’) is designed specifically to show depth, so may use only a digital display (useless for fish finding) instead of a graphical display, and frequently will have some means of making a permanent recording of soundings (which are merely shown and subsequently electronically discarded in common sporting fishfinder technology) and are always principally instruments of navigation and safety. The distinction is in their main purpose and hence in the features given the system. Both work the same way, and use similar frequencies, and, display type permitting, both can show fish and the bottom. Thus today, both have merged, especially with the advent of computer interfaced multipurpose fishfinders combining GPS technology, digital chart-plotting, perhaps radar and electronic compass displays in the same affordable sporting unit.

WELCOME !!!

Selamat Datang di Blog saya

semoga memberikan banyak manfaat bagi anda sekalian

cheerrss!!!